Jangan Benci aku mama

View previous topic View next topic Go down

Jangan Benci aku mama

Post  haryos on Wed Oct 20, 2010 10:56 pm

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelina. Saya sangat menyanyangi Angelina. Demikian juga Sam. Sering sekali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian buntut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica.

Eric yagn sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun… telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois dan tinggi hati berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat kearah saya. Sambil tersenyum ia berkata “ Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy”
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “tunggu…, sepertinya saya mengenalmu, siapa namamu anak manis?”

“nama saya Elic , tante.”
“Eric?Eric.. ya Tuhan kau benar-benar Eric?”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan anah lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya…saya harus mati…,mati…mati… ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali ke pikiran saya. Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric.

Sore itu saya memarkir mobil biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menetap saya dari samping. “Mary apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.”ttapi aku meceritakannya juga dengan terisak-isak….

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil di ikuti oleh brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali berapa bulan lamanya dan Eric.. Eric..

Saya meninggalkan Eric disana 10 tahhun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali…tidak terlihat sesuatu apapun perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namu saya tidak menemukan siapapun juga di dalammya. Hanya ada sepotong kain buntut tergeletak dilantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama…. Mata muali berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju buntut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya…..

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu.. air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“hei... ! Siapa kamu?! Mau apa kamu kemari?”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “ Ibu, Apa Ibu kenal dengan serorang anak bernama Eric yang dulu tinggal disini?”
Ia menjawab, “kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Taukah kamu, 10 tahun yang lau sejak kamu meninggalikannya disini Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, “mommy …mommy!” karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu.

Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama berthaun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu….”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu….
“mommy, mengapa mommy tidak pernah kembali lagi..? mommy marah sama Eric ya? Mom, biarlah Eric pergi saja, tapi mommy harus bejanji kalu mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye mom…”

saya menjerit histeris membaca surat itu. “bu tolong katakana…katakana dimana ia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, bu! Tolong katakan….!!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelm nyonya datanga, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal dibelakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan dibelakang rumah ini tampa berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila mommy-nya dating, mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya di dalam sana.. ia hanya berharap dapat melihat mommy-nya dari belakang gubuk ini,…… meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu nyonya disana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!!”

saya keudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata di Irlandia Utara)

haryos

Posts : 56
Points : 166
Reputation : 1
Join date : 2010-10-07

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum