Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandangan Barat

View previous topic View next topic Go down

Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandangan Barat

Post  haryos on Fri Oct 22, 2010 10:56 pm


REINKARNASI

Pendahuluan

Pembahasan kali ini dapat dikatakan sebagai suatu resensi dan juga ringkasan dari sebuah buku berjudul "Where Reincarnation And Biology Intersect", karya seorang professor dalam bidang psikiatri dan direktur dari "divisi riset kepribadian" pada Health Sciences Center di Universitas Virginia. Beliau telah menerbitkan sembilan buku mengenai risetnya sejak tahun 1966.
Ternyata masalah kelahiran kembali ini telah menarik perhatian pengamat dari dunia Barat sejak lama.

Subjek Penelitian

Ada anak-anak yang sanggup untuk mengingat kehidupannya masa lampau. Kasus-kasus istimewa ini lebih banyak terjadi di negeri-negeri di mana kepercayaan akan reinkarnasi atau kelahiran kembali adalah demikian kuatnya seperti: Negara-negara Hindu dan Budhis, dan lain
sebagainya. Mengapa demikian? Karena di negeri-negeri tersebut jika seorang anak menyebutkan mengenai kehidupannya di masa lampau, maka orang tuanya akan memahaminya, tidak seperti di negara-negara yang tidak mempercayai adanya kelahiran kembali/ reinkarnasi, di mana jika seorang anak mengatakan hal yang tidak umum demikian akan menimbulkan kesalah pahaman bagi orang tuanya. Meskipun demikian ada juga beberapa kasus yang terjadi di Barat.
Kasus-kasus yang terjadi yang disebutkan di buku ini semuanya telah dibuktikan kebenarannya.

Setelah mempelajari kasus-kasus yang ditulis di buku ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa wujud fisik kelahiran suatu makhluk dapat ditentukan oleh kondisi pikirannya sendiri maupun interaksi dengan kondisi pikiran orang atau makhluk lain, yang mana di dalam buku ini
akan dibahas satu persatu. Semoga setelah mempelajari kasus-kasus ini kita dapat hidup lebih
baik dan menjaga pikiran kita.

Perubahan kondisi fisik yang disebabkan oleh kekuatan pikiran orang lain

Prof. Ian Stevenson telah mengumpulkan 300 laporan medis mengenai hal ini yang terjadi di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Belanda, serta Belgia.

Sebagai contoh untuk hal ini ada seorang ibu yang sedang mengandung,
kemudian saudaranya ada yang menderita kanker pada organ tubuhnya dan
harus diamputasi. Sang ibu ini timbul ingin tahunya, ia ingin melihat
organ tubuh saudaranya yang telah diamputasi tersebut. Dan anehnya
setelah lahir bayinya juga tidak mempunyai organ tubuh tersebut.
Kasus semacam ini menurut Prof. Ian Stevenson di dalam bukunya
mempunyai peluang yang sangat kecil yakni 1 di dalam 30.000.000

Jadi di buku ini halaman 25 disebutkan juga bahwa pertumbuhan bayi
adalah sangat pekanya pada triwulan pertama usia kehamilan, jadi
pengaruhnya adalah lebih besar pada usia kehamilan ini daripada usia
kehamilan berikutnya.
Kejutan menakutkan yang dialami sang ibu dapat mempengaruhi wujud
fisik dari bayi yang dikandungnya.
Bayi pada usia kehamilan tersebut juga sangat peka terhadap obat-
obatan berbahaya seperti : thalidomide, juga infeksi karena virus.

Kasus berikutnya:

Hal ini terjadi di Srilanka pada seorang bayi laki-laki bernama
Sampath Priyasantha, yang mana kasus ini telah dinvestigasi sendiri
oleh Professor Ian Stevenson. Sampath dilahirkan tanpa lengan dan
kakinyapun juga cacat berat.
Bayi itu kemudian meninggal pada usia dua puluh bulan.
Desa tempat tinggal Samprath letaknya terpencil dan susah dicapai.
Pertama kali sang professor membuat hipotesa/ dugaan, bahwa
barangkali Sampath adalah reinkarnasi dari seseorang yang juga cacat.
Maka ia menanyakan pada ayah sang bayi, apakah ia kenal seseorang
yang sebelum meninggal mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan
kecacatan tersebut. Sang ayah mengiakan dan mengatakan, "Ia adalah
orang yang kubunuh dengan jalan memotong lengan dan kakinya dengan
menggunakan sebuah pedang." Ia menjelaskan bahwa orang yang
dibunuhnya adalah preman di desa itu.
Ibu dari orang yang dibunuh itu sangat dendam dan mengutuk keluarga
itu bahwa mereka akan mempunyai anak yang cacat.

Kasus-kasus kelahiran kembali yang dipengaruhi oleh masa lalu

Maung Myint Aung adalah seorang Burma yang lahir Burma Hulu pada
tahun 1972. Ketika mulai dapat berbicara ia mengatakan adalah seorang
serdadu Jepang yang terbunuh di Rangoon, jauh dari desa kelahirannya,
pada saat melarikan diri dari serbuan Inggris.
Agar tidak tertangkap ia dan empat orang rekannya melakukan bunuh
diri, dan ia melakukan bunuh diri dengan memotong batang lehernya
sendiri.
Tempat ia bunuh diri itu ialah di suatu kebun binatang di Kota
Rangoon.
Dan memang sejak lahir Maung Myint Aung mempunyai tanda kelahiran
pada bagian lehernya, selebar 1 cm yang membentang horizontal pada
hampir seluruh bagian depan lehernya. Tanda itu mirip dengan tanda
luka yang telah sembuh pada orang yang pernah memotong lehernya
sendiri dan berhasil bertahan hidup. Professor Ian sendiri telah
membandingkan hal itu dengan sebuah foto luka orang lain yang telah
memotong lehernya sendiri, tapi orang ini tidak berhasil
diselamatkan. Dan ternyata hal tersebut mirip sekali dengan tanda
kelahiran pada leher Maung Myint Aung.
Maung Myint Aung kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mirip
dengan orang Jepang, seperti sikap duduknya, juga ia kurang senang
jika tim sepak bola Jepang kalah. Ia juga suka bermain sebagai
tentara dan sikapnya kasar seperti seorang prajurit juga.
Maung juga terus-terusan ingin kembali ke Jepang.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Maung mengatakan bahwa setelah mati ia
tetap berdiam di kebun binatang itu, sampai orang yang menjadi bakal
ayahnya itu mengunjungi kebun binatang itu. Dan memang benar ayahnya
mengakui bahwa sebelum kelahiran Maung ia memang mengunjungi kebun
binatang di Rangoon itu.

Chanai Choomalaiwong, lahir di Thailand Tengah pada tahun 1967, pada
saat dilahirkan ia memiliki dua buah tanda kelahiran, yang pertama
terdapat pada bagian belakang kepalanya, sedangkan yang kedua di
bagian depan kepalanya, tepatnya di atas mata kirinya. Orang tuanya
pertama kalinya masih belum mengetahui makna dari tanda kelahiran ini.
Sampai saat Chanai berusia 3 tahun, ketika bermain dengan anak-anak
lainnya ia sangat suka bermain menjadi seorang guru, serta mengatakan
bahwa ia adalah guru pada kehidupannya yang lalu dan bernama Bua Kai.
Ia menyebutkan bahwa ia mempunyai seorang istri dan anak-anak.
Ia menceritakan pula bahwa ia telah dibunuh ketika sedang dalam
perjalanan ke sekolah dengan jalan ditembak.
Chanai kemudian menyebutkan pula bahwa ia dulu tinggal di sebuah
tempat bernama Khao Phra dan memohon agar ia dibawa ke sana. Akhirnya
neneknya setuju membawanya ke Khao Phra. Chanai masih mengingat di
mana rumahnya yang dulu, dan membawa neneknya ke sebuah rumah, dan
berhasil mengenalinya sebagai orang tuanya yang dulu. Dan ternyata
memang benar mereka pernah menjadi mempunyai seorang anak bernama Bua
Kai, yang dibunuh pada tahun 1962, dan anehnya Chanai berhasil
menyebutkan semua detail mengenai kehidupan Bua Kai dengan cukup
akurat. Ia berhasil pula mengenali anggota keluarganya yang dulu.
Ternyata setelah diteliti Bua Kai terbunuh pada pagi hari tanggal 23
Januari 1962 dengan tembakan melalui bagian belakang kepalanya dan
pelurunya keluar lagi menembus bagian depan kepalanya, di atas mata
kirinya, persis dengan tanda kelahiran yang dimiliki Chanai.

Aristide Kolotey seorang Ghana (Afrika) mempunyai tanda kelahiran
memanjang dari bagian leher turun ke dada, hingga mencapai perut
bawahnya. Aristide dikatakan sebagai reinkarnasi dari pamannya yang
mati tenggelam dan badannya terbelah di bagian lehernya, ketika ia
sedang menyelam di daerah yang berbatu-batu dan tidak memperhatikan
batu-batu yang berbahaya tersebut, hingga akhirnya badannya terpotong
oleh batu-batu tersebut dan meninggal. Aristide memang mempunyai rasa
ketakutan (phobia) terhadap air.

Metin Köybasi lahir di desa Hatun Köy, dekat Iskenderun, Turki, pada
tanggal 11 Juni 1963. Sebelum kelahirannya, orang tuanya bermimpi
bahwa Metin adalah kelahiran kembali dari saudara mereka Hasim
Köybasi, yang telah terbunuh sekitar 5 bulan sebelumnya, pada suatu
kerusuhan di desa mereka.
Pada saat kelahirannya ditemukan tanda kelahiran pada bagian depan
kanan dari lehernya. Pertama kali tidak diketahui makna dari tanda
kelahiran (birth mark) itu. Sampai Professor Ian mempelajari laporan
kematian dari Hasim Köybasi, yang memang benar bahwa ia ditembak pada
tempat yang sama dari tanda kelahiran Metin itu.
Metin juga menunjukkan kebencian yang luar biasa kepada orang yang
pernah menembak Hasim, dan pernah ia suatu kali mengambil senapan
ayahnya untuk balas menembak orang itu, tapi untung berhasil dicegah.
(Hal 43-44)

Tali Sowaid lahir pada Bulan Agustus 1965 pada sebuah desa kecil
Btebyat di pegunungan sebelah timur Beirut, Libanon. Ia mempunyai
tanda kelahiran berupa lingkaran pada tiap-tiap pipinya.
Begitu ia mulai dapat berbicara ia mulai menyebutkan tentang
kehidupan seorang pria yang tinggal di desa Btechney (sekitar 4 km
dari Btebyat). Ia menjelaskan bahwa ketika ia sedang minum kopi
seorang pria mendatanginya dan menembaknya. Apa yang diceritakan oleh
Tali itu ternyata tepat sekali dengan kematian seorang pria bernama
Said Abul-Hisn, yang memang benar tinggal di Btechney.
Ia ditembak oleh seorang yang mengalami ketidak stabilan mental,
pelurunya menembus bagian samping dari wajah Said dan keluar lagi
pada sisi satunya. Pelurunya itu juga menyebabkan lidah Said luka
parah. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit, dan dipasangi alat bantu
napas. Namun ternyata dalam suatu kecelakaan Said terjatuh dari
tempat tidurnya, yang menyebabkan alat bantu napasnya rusak, dan ia
meninggal dunia setelah itu. Hal ini juga dicatat oleh rumah sakit
tersebut, sehingga menjadi bukti otentik tentang kebenaran kasus ini.
Professor Ian mempelajari lebih jauh mengenai tanda kelahiran yang
ada pada pipi Tali, ternyata kedua tanda lingkaran itu ada salah satu
yang lebih besar dari yang lainnya, hal ini bersesuaian dengan luka
masuknya peluru yang lebih kecil sedangkan tanda yang lebih besar
pada pipi kanan bersesuaian dengan luka keluarnya peluru.
Karena luka di bagian lidah Said, Tali menunjukkan kesukaran dalam
mengucapkan bunyi-bunyi tertentu.
Tali juga menolak ketika dipanggil dengan namanya, melainkan minta
dipanggil dengan namanya yang dulu yakni Said.
(Hal 44-45)

Sunita Khandelwal, lahir di kota Laxmangarh di negara bagian
Rajasthan, India pada tanggal 19 September 1969. Ayah Sunita bernama
Radhey Shyam Khandelwal, adalah pedagang pasir, biji-bijian, serta
pupuk..
Sesaat setelah Sunita lahir, didapati suatu tanda kelahiran besar
pada bagian kanan dari kepalanya. Ketika lahir tanda kelahiran itu
mengeluarkan darah, namun keluarganya memberi bedak pada luka itu,
dan sembuh setelah tiga hari kemudian.
Tanda itu berbentuk bundar, tidak ditumbuhi rambut, serta jauh lebih
gelap dari daerah di sekitarnya.
Pada usia sekitar 2 tahun Sunita mulai menyebutkan kehidupan masa
lalunya. Ia mengatakan bahwa ia berasal dari suatu tempat yang
bernama Kota, di mana ia mempunyai orang tua dan dua orang saudara.
Ia menambahkan lagi secara lebih mendetail, bahwa keluarganya
mempunai sebuah toko kerajinan dari perak (silver shop). Ia
menceritakan pula bahwa ia telah terjatuh sambil menunjuk ke
kepalanya, pada tanda kelahirannya, kemudian berkata, "Lihatlah ini.
Aku telah terjatuh."
Sunita menambahkan pula bahwa ia telah didorong jatuh oleh saudara
sepupunya pada usia 8 tahun, rupanya itulah yang menyebabkan
kematiannya.
Orang tuanya tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksud Sunita,
karena mereka memang belum pernah pergi ke tempat yang bernama Kota
itu.
Sunita kemudian meminta kepada orang tuanya untuk dibawa ke tempat
itu. Akhirnya orang tuanya mengabulkan hal itu dan membawa Sunita ke
tempat yang dimintanya itu. Ketika sampai Sunita ternyata dapat
menyebutkan detail dari tempat itu, seperti pojokan Chauth Mata
Bazaar, di mana dulu toko kerajinan peraknya berada. Mereka kemudian
mencari informasi mengenai pemilik toko kerajinan perak di Chauth
Mata Bazaar yang telah kehilangan anak perempuannya karena terjatuh.
Pencarian ini mengantar mereka ke toko kerajinan perak milik Prabhu
Dayal Maheshwari, yang benar mempunyai seorang anak yang meninggal
karena jatuh bernama Sakuntala, dengan detail yang tepat seperti
dikatakan oleh Sunita. Yaitu pada saat ia berusia 8 tahun, ketika
sedang bermain-main di balkon, mereka saling mendorong yang
mengakibatkan Sakuntala kehilangan keseimbangan, sehingga akhirnya
terjatuh dengan kepala menyentuh lantai dan meninggal.
Semua yang dikatakan Sunita mengenai hal itu sebagian besar tepat
adanya.

Wilfred Meares, lahir di Queen Charlotte City, British Columbia
Canada pada tanggal 22 November 1961, sebelum mengandung Wilfred
ibunya Ruby Meares bermimpi bertemu dengan saudara mereka yang
bernama Victor Smart, yang mana dalam mimpi itu Ruby Meares berkata
padanya, "Tetaplah berkunjung padaku". Bahkan pada saat Victor masih
hidup ia pernah berkata, bahwa kalau seandainya ia dapat
bereinkarnasi maka ia ingin menjadi anak dari Ruby Meares.
Victor Smart adalah orang yang ramah hanya saja ia adalah seorang
peminum (alcoholic). Victor Smart mempunyai kebiasaan yang berbahaya,
yaitu ketika naik mobil ia suka menyandar pada pintu. Suatu saat
ketika sedang bermobil dengan kawan-kawannya, mobil itu mengalami
kecelakaan, pintunya terbuka, ia terlempar keluar. Kepalanya
membentur jalan dan meninggal seketika itu juga.
Data kematian ini telah dicatat pada rumah sakit yang menangani mayat
Victor. Wilfred mempunyai tanda kelahiran selebar 5 milimeter dan
sepanjang dua cm, berupa bagian yang tidak ditumbuhi rambut pada
bagian belakang kepalanya.
Ketika mulai dapat berbicara Wifred membuat beberapa pernyataan
tentang Victor Smart.
Anehnya meskipun masih kecil Wifred telah mempunyai ketertarikan akan
alkohol dan akan berjalan berkeliling seputar orang dewasa yang
sedang minum-minum, dengan harapan mereka akan memberinya alkohol.
Namun ia selalu bersikap sopan mengenai hal ini, dan tidak pernah
minum sebelum itu ditawarkan atau diberikan padanya.
(Hal 54)

Anurak lahir di Bangkok, Thailand pada tanggal 14 Desember 1969. Ia
mempunyai tanda kelahiran yang mencolok pada lengan kanannya (pada
buku gambar nomor 18). Professor Ian Stefenson dan Professor Kloom
Vajropala dari Thailand (Professor Kloom ini adalah ilmuwan Buddhis
yang berusaha menyelaraskan antara Ilmu pengetahuan dan agama)
melakukan wawancara dengan orang tuanya.
Anurak dipercaya sebagai kelahiran kembali dari kakaknya Chatchewan
yang mati tenggelam di sungai. Sebelum Chatchewan dikremasi,
keluarganya membuat tanda dari batu bara pada lengan kanannya, dengan
harapan apabila ia dilahirkan kembali, maka dapat mudah dikenali
dengan tanda kelahiran pada tempat yang sama.
Ketika Anurak mulai dapat berbicara ia membuat beberapa pernyataan
mengenai Chatchewan, serta dapat menemukan pakaian seragam kepanduan
Chatchewan yang terletak dalam sebuah lemari. Anurak juga menunjukkan
ketakutan akan air (phobia).
(Hal 79)

M. Karaytu dilahirkan pada tahun 1931 di Desa Kavakli, dekat Adana,
Turki. Ia dilahirkan dengan suatu tanda kelahiran berbentuk mirip
segitiga pada bagian punggung bawah.
Ketika berusia 3 ½ tahun ia mulai mengatakan tentang seseorang
bernama Haydar Karadöl, yang mempunyai tanah pertanian dengan bekerja
sama dengan seseorang.
Kita sedang makan dan minum dengan rekan kerja samanya itu, mereka
mengalami pertengkaran. Haydar memukul rekannya itu serta pergi
meninggalkan tempat itu. Rekannya mengambil pisau dan mengejar
Haydiar dan kemudian menusukkan pisau itu pada bagian punggungnya.
Pisau yang digunakan untuk menusuk adalah jenis yang ditajamkan salah
satu sisinya, dan meninggalkan luka seperti tanda kelahiran yang ada
pada Karaytu.
(Hal 89)

Kisah berikut ini terjadi di Burma. Maung Zaw Win Aung dilahirkan di
Meiktila, Burma Hulu (Upper Burma) pada tanggal 9 Mei 1950, orang
tuanya bernama U Tin Aung dan Daw Kyin Htwe. Ia adalah anak pertama
dari ke dua belas orang anak yang dimiliki pasangan itu.
Maung Zaw Win Aung merupakan seorang albino, yaitu orang yang
terlahir dengan warna kulit lebih terang atau lebih putih dari rekan
sebangsanya. Warna rambutnya juga pirang.
Dan anehnya lagi mata Win Aung tidak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid
seperti yang dipunyai oleh orang Burma lainnya, melainkan menunjukkan
ciri-ciri Kaukasoid, yaitu yang dipunyai oleh orang Barat pada
umumnya.
Pada saat mulai dapat berbicara Win Aung mengatakan bahwa ia dulunya
adalah seorang penerbang Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh di
dekat Meiktila, bahkan ia dapat menyebutkan pula bahwa namanya dahulu
adalah John Steven.Ia juga ingat bahwa pesawat tempur yang
diterbangkannya tidak berbasis di Burma. Ia kadang-kadang minum
alkohol bila mereka sedang dalam misi pengeboman.
Dan memang dalam catatan sejarah beberapa pesawat tempur Amerika yang
berbasiskan di dekat Calcutta pernah ditembak jatuh di dekat Meiktila
oleh Jepang pada Perang Dunia II.
Win Aung menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak biasa di
keluarganya yang dapat dikategarikan sebagai "kebiasaan Barat".
Ia mempunyai kenangan dengan Amerika, dan menyebutkan bahwa ia ingin
kembali ke sana bila dapat. Ia juga membanggakan Amerika sebagai
tempat yang lebih baik untuk hidup dibandingkan Burma, juga ia
menunjukkan kemarahan kepada orang Jepang. Anehnya ia juga lebih
menyukai pakaian Barat daripada pakaian Burma, seperti sepatu,
celana, dan juga sabuk. Ia begitu tertarik dengan pesawat terbang,
serta bertahun-tahun ia mengatakan bahwa ia akan menjadi pilot
pesawat terbang.
Ia juga menolak untuk makan dengan tangan (yang mana dilakukan oleh
hampir semua orang Burma) dan makan dengan sendok sampai ia berusia
dua belas tahun. Ia tidak suka makanan Burma dan lebih menghendaki
susu dan biskuit. Win Aung nampaknya juga memiliki keinginan yang
kuat akan alkohol, meskipun sebagai anak kecil ia tidak pernah
mengekspresikan hal itu.
Suatu hal penting adalah adalah pada saat masih kecil, Win Aung
menunjukkan suasana hati yang mudah berubah. Suatu saat ia berbicara
dengan berapi-api mengenai misi pengemboman yang dilakukannya, tapi
dengan segera ia akan meloncat ke hal sebaliknya, yaitu tentang
penyesalannya telah membunuh begitu banyak orang. Ia memperlihatkan
bahwa ia ingin menjadi seorang Bhiksu Budha untuk menebus kejahatan
perang yang pernah dilakukannya (pada usia yang masih muda ia masih
belum mengerti bahwa sebenarnya tidak ada pengampunan dosa di dalam
ajaran Budha, tapi ia mungkin telah salah mengira bahwa bhiksu-bhiksu
Budha itu sebagai para biarawan di Barat, yang sama-sama mengenakan
jubah panjang.)
Ketika tumbuh menjadi besar akhirnya Win Aung berusaha untuk menjadi
orang Burma, namun ia masih tetap mempunyai ingatan akan kehidupan
yang lebih baik di Amerika.
Win Aung kemudian masuk sekolah kedokteran, menikah dan mempunyai
anak yang normal seperti layaknya orang Burma.
Satu keanehan lagi pada saat Maung Zaw Win Aung berusia sepuluh
tahun, ibunya bermimpi didatangi oleh seorang wanita Barat yang
meminta ijin untuk dilahirkan di keluarga mereka, agar dapat dekat
dengan saudara laki-lakinya. Dan benar setelah itu ibunya melahirkan
seorang bayi perempuan yang juga menunjukkan ciri-ciri seperti orang
Barat. Anak perempuan itu kemudian diberi nama Dolly Aung (hal 157-
159).

Berikut ini adalah mengenai anak kembar.
Ma Khin Ma Gyi dan Ma Khin Ma Nge adalah anak kembar yang dilahirkan
di Negara Bagian Shan, Burma, pada tanggal 5 Februari 1961. Orang tua
mereka bernama U Ba Thaw dan Daw Mya Tin. Sebelum kelahiran mereka,
ibunya bermimpi bahwa orang tuanya akan terlahir kembali sebagai anak
mereka.
Ketika mulai dapat berbicara mereka menyebutkan tentang kehidupan
dari kakek dan nenek mereka. Ma Khin Ma Gyi dapat mengingat kehidupan
kakek mereka, sedangkan Ma Khin Ma Nge dapat mengingat kehidupan dari
nenek mereka (hal 161-162).

Dulcina Karasek dilahirkan sekitar tahun 1919 di Dom Feliciano,
negara bagian Rio Grande do Sul, Brasilia. Orang tuanya bernama
Patricio dan Georgeta de Albuquerque.
Dulcina menyatakan bahwa dirinya dulu bernama Zeca, dan ia
menyebutkan detail-detail kehidupan dari saudara sepupu dari orang
tuanya yang bernama Jose Martins Ribeiro, yang juga dipanggil Zeca.
Zeca lahir sekitar tahun 1872.
Sebagai seorang pemuda Zeca menyibukkan dirinya dengan aktivitas-
aktivitas politik serta masalah-masalah revolusioner, serta mengalami
petualangan-petualangan yang terekam di ingatan Dulcina. Zeca
kemudian membangun suatu bisnis di kota Dom Feliciano serta menikah,
tetapi kemudian sakit dan meninggal pada tahun 1895, kemungkinan
karena syphilis.
Dulcina mati-matian menyebut dirinya sebagai Zeca, serta menolak
dipanggil Dulcina dengan mengatakan, "Jangan panggil aku Dulcina, aku
ini Zeca, seorang pria, dan telah menikah." Ia secara berulang kali
menolak bahwa dirinya adalah wanita, dan menyatakan bahwa dirinya
adalah seorang pria. Suatu kali ia bertanya pada ibunya," Kenapa
jenis kelaminku berubah? Aku dulunya adalah pria dan sekarang adalah
seorang wanita." Pada kesempatan lain, ia melihat dirinya di cermin
dan bertanya pada ibunya,"Mengapa warna mataku dapat berubah?" (Zeca
mempunyai mata biru, sedangkan Dulcina coklat).


Dulcina juga lebih memilih untuk mengenakan pakaian laki-laki. Ketika
bertambah dewasa, bentuk fisiknya menunjukkan sifat-sifat maskulin.
Setelah melewati masa pubertas, badan Dulcina ditumbuhi rambut, juga
tubuhnya menjadi berotot menunjukkan ciri-ciri maskulin (hal 162-163)

Maung Myo Min Thein dilahirkan di desa Wundwin, Burma Hulu, pada
tanggal 14 September 1967. Ayahnya bernama U Aung Maw dan ibunya Daw
Thoung Nyunt.
Pada saat dilahirkan Maung Myo Min Thein ia mempunyai tanda kelahiran
yang mencolok, yaitu suatu daerah yang tidak ditumbuhi rambut pada
bagian kepalanya.
Pada saat itu orang tuanya masih belum tahu makna dari tanda
kelahiran tersebut. Tanda-tanda pertama yang menunjukkan kehidupannya
yang lampau, adalah ketika ia berusia 8 bulan, tatkala orang tuanya
membawanya ke sebuah biara bernama Thein-gottara, dimana mereka
merencanakan untuk melewatkan hari itu dalam suasana keagamaan. Di
biara itu Maung menjadi ketakutan dan mulai menangis. Orang tuanya
tidak berhasil menenangkannya, dan mereka akhirnya pulang ke rumah.
Ketika Maung telah menjadi lebih besar, ia mencoba untuk menjelaskan
tentang ingatannya mengenai masa lalu, sebelum ia mempunyai
perbendaharaan kata yang cukup. Ia akan menunjuk ke Biara Thein-
gottara, dan menunjukkan dengan tangannya bahwa ia telah dipukul pada
bagian kepalanya. Pada saat itu Maung telah berusia tiga tahun.
Pada usia empat atau lima tahun Maung telah mempunyai perbendaharaan
yang memadai untuk menjelaskan secara terperinci mengenai
kehidupannya di masa lampau. Ia menjelaskan bahwa ia dulunya adalah
Yang Arya U Warthawa dari Biara Thein-gottara dan telah dipukul pada
bagian belakang kepalanya oleh sebuah baut pintu yang berat.
Mendengar hal ini orang tuanya melakukan pengujian yang lebih teliti
dan mendapati bahwa pada bagian belakang kepala Maung, ternyata
ditemukan suatu cekungan (depression) yang mereka tidak pernah
perhatikan sebelumnya.
Maung membuat pernyataan yang lain mengenai kehidupannya di masa
lampau, yaitu ia menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah seorang asing
yang menderita gangguan mental. Ia menyebutkan juga bahwa bahwa tidak
lama sebelum kematiannya, bahwa ia telah meminta salah seorang dari
bikhu di vihara itu untuk membatalkan perjalanannya ke Mandalay, yang
telah direncanakan sebelumnya, tetapi ia menolak membatalkannya dan
tetap meneruskan rencananya.
Pernyataan Maung Myo Min Thein semuanya tepat dengan keadaan kematian
dari Bhikku U Warthawa, yang merupakan kepala biara yang sangat
dihormati dari Biara Thein-gottara. Seorang bhikku asing datang ke
biara itu suatu hari, dan Yang Arya U Warthawa menawarkan
keramahannya. Tidak ada yang memperhatikan bahwa bhikku asing itu
sebenarnya sakit mental.
Maung menunjukkan pula beberapa kebiasaan yang menarik, yaitu
kebiasaan yang tidak umum di keluarga itu, namun berhubungan dengan
Yang Arya U Warthawa, yakni antara lain:
Ia menunjukkan ketakutan terhadap bhikku-bhikku yang tidak
dikenalnya, yang nampaknya menjadi bagian ingatannya yang sebelumnya
telah dibunuh oleh seorang bhikku yang tidak dikenal sebelumnya.
Sebagai seorang anak Maung Myo Min Thein menyukai duduk dengan
menyilangkan kedua kakinya, sikap duduk yang merupakan kebiasan dari
para bhikku Buddha.
Secara mencolok ia lebih memilih duduk di tempat yang lebih tinggi
dan lebih baik, dan tidak mau duduk di a tas karang beras kosong yang
dibentangkan di lantai, untuk duduk anggota keluarga itu. Hal itu
menunjukkan peran seorang Bhikku Buddha, yang mana umat awam di
negara-negara yang menganut agama Budha Theravada jika mengunjungi
seorang Bhikku akan duduk di lantai atau tempat yang lebih rendah
dari tempat duduk sang bhikku.
Yang Arya U Warthawa wafat pada tanggal 1 April 1949, selang waktu
antara kematian Beliau dan lahirnya Maung adalah dengan demikian
lebih dari 18 tahun, yang merupakan salah satu rentang waktu
terpanjang dari kasus-kasus yang pernah diteliti oleh Professor Ian
Stevenson (hal 132-134).

Diskusi umum

Dalam bagian diskusi umum Professor Ian Stevenson menyebutkan bahwa
jika seseorang dapat lahir kembali, maka timbul pertanyaan zat apakah
yang dtransmisikan dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya.
Professor Ian menemukan bahwa penggunaan istilah diathanatic cukup
membantu. Diathanatic berarti dibawa melalui kematian ("carried
through death"), suatu istilah untuk mewakili suatu "bagian" dari
orang yang meninggal, yang dapat mencapai kelahirannya kembali.
Bagian-bagian apakah yang merupakan diathanatic? Dari kasus-kasus
yang sudah kita pelajari di atas maka kita dapat menyebutkan:
beberapa informasi kognitif tentang kejadian-kejadian dari masa lalu,
bermacam-macam kesukaan, ketidak sukaan, dan kebiasaan-kebiasaan
lainnya, dan dalam beberapa kasus, sisa-sisa luka atau tanda-tanda
lainnya pada tubuh fisik yang sebelumnya.
Bayi-bayi dapat pula dilahirkan dengan tanda-tanda kelahiran, yaitu
tanda-tanda tertentu atau cacat pada bagian luka pada kehidupan
sebelumnya.
Kita dapat memahami lebih baik hilangnya melalui proses kematian
beberapa atau banyak kepribadian (personality) dari kehidupan
sebelumnya dengan membedakan antara istilah personality dan
individuality (catatan: kedua istilah ini segaja tidak penulis
terjemahkan agar artinya tidak hilang).
Yang dimaksud personality adalah sifat-sifat, baik yang nampak maupun
tidak nampak yang mungkin dimiliki seseorang dari kehidupan
sebelumnya atau banyak kehidupan sebelumnya, demikian juga dengan
kehidupan yang sekarang, sedangkan personality adalah bagian-bagian
dari individuality yang saat ini diekspresikan, atau kemampuan untuk
menyampaikan atau mengekspresikan sesuatu (capable of expression).
Sebagai contoh jika kita mempelajari Bahasa Swahili pada hidup kita
yang lampau, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengucapkannya
pada kehidupan yang sekarang, maka bakat demikian merupakan bagian
dari individuality kita, tetapi bukan bagian dari personality kita.
Jika kita mencoba untuk belajar Bahasa Swahili pada kehidupan kita
yang sekarang maka kita akan lebih mudah untuk mempelajarinya.

"Personality" orang yang telah meninggal mungkin juga mempengaruhi
tubuh fisik yang akan datang dengan jalan memilih dan menyeleksi sel
telur yang dibuahi (fertilized ova) atau embrio. Terlepas dari hal-
hal lain yang relevan, pemilihan semacam itu menjadi penting
jika "personality" itu tidak berubah jenis kelaminnya dari kehidupan
satu ke kehidupan berikutnya. Bahkan di Birma dimana 26 persen dari
kasus yang ada adalah perubahan jenis kelamin semacam itu, beberapa
pemilihan dari tubuh fisik yang tepat adalah penting bagi sebagian
besar kasus.
Saya (Professor Ian Stevenson) tidak dapat menjelaskan bagaimana
orang yang meninggal mengalami hal itu.
Professor Stevenson hanya dapat menjelaskan bahwa berdasarkan fakta-
fakta yang mendukung, kondisi psikologis dapat merubah cairan tubuh
wanita untuk memberikan kondisi yang menguntungkan bagi kromosom Y
(yang mana jenis kelamin pria berasal), atau sebaliknya memberikan
kondisi yang lebih menguntungkan bagi kromosom X (yang membawa jenis
kelamin wanita).
Jika "personality" orang yang meninggal dapat - sebagaimana yang
ditunjukkan oleh beberapa kasus - memiliki rasa "kemelekatan" pada
ibu yang sedang hamil, maka mungkin hal dapat juga mempengaruhi
kondisi fisik sang ibu, yang mana berpengaruh untuk lebih memberikan
peluang bagi jenis kelamin laki-laki atau wanita.
Selanjutnya kelahiran kembali berikutnya juga ditentukan dengan jalan
menyeleksi orang tua mereka.
Kemudian juga memori dari orang yang telah meninggal itu juga
mempengaruhi tubuh fisik yang akan datang, seperti misalnya kasus-
kasus mengenai tanda-tanda kelahiran. Jadi mereka menyimpan memori
mengenai jenis luka-luka pada tubuh fisiknya yang dulu.
Professor Ian mengandaikan bahwa ada suatu "pembawa" memori itu, yang membawa ingatan tentang tubuh fisik, kemampuan dan juga kebiasaan- kebiasaan terdahulu dari orang yang meninggal itu. Beliau mengusulkan istilah psycophore yang artinya "pembawa pikiran/ mind carrying",
bagi "kendaraan perantara/ intermediate vehicle" itu. Professor Ian menambahkan bahwa bagi agama-agama yang mengakui adanya reinkarnasi memiliki istilah tersendiri untuk "kendaraan perantara" itu, namun penggunaan istilah itu akan membelokkan makna dari karya ilmiah ke agama tertentu itu. Beliau juga berpendapat bahwa psycophore itu bersifat seperti suatu
medan atau kumpulan dari beberapa medan (field), yang membawa informasi mengenai tubuh fisik dan ingatan lain, dan kemudian mereproduksinya lagi dengan kadar yang berbeda-beda pada janin yang akan menjadi tubuh barunya.
Istilah medan/field ini pertama kali digunakan oleh Michael Faraday untuk menjelaskan hubungan mengenai kelistrikan dan kemagnetan. Pada tahun 1920 beberapa ahli biologi mulai menggunakan istilah ini untuk menjelaskan mengenai perkembangan janin mulai dari sel telur yang dibuahi, embrio, janin, dan selanjutnya menjadi bayi. Mereka menyebutkan istilah Morphogenetic field, yang "mengatur/ governing" perkembangan bentuk organ-organ fisik tubuh akan menjadi seperti apa nantinya selama di dalam kandungan.

Berikutnya akan penulis kutipkan kata-kata penutupan dari buku ini
yang bagus untuk direnungkan:

"Hingga saat ini saya tidak berkata apa-apa mengenai nilai yang potensial dari gagasan mengenai reinkarnasi dalam mengurangi rasa takut akan kematian, yang mana sangat umum di Barat. Dikatakan secara bijaksana bahwa pertanyaan mengenai hidup setelah kematian adalah hal terpenting yang seorang ilmuwan - atau - orang lain dapat tanyakan. Saya dengan sengaja menyembunyikan aspek mengenai reinkarnasi ini sampai ke halaman terakhir ini, karena saya benar-benar sadar bahwa ketakutan akan kematian, dapat membangkitkan suatu kepercayaan akan kehidupan sesudah mati. Adalah benar bahwa banyak dari kita ingin percaya pada kehidupan sesudah kematian, namun harapan kita bahwa sesuatu mungkin benar, tidak membuatnya menjadi salah. Kita mungkin , setelah semua ini, terlibat dalam suatu evolusi ganda,
yakni evolusi dari tubuh dan jiwa atau pikiran kita.

Demikian akhir dari makalah ini. Semoga ringkasan ini bisa berguna bagi semuanya.
Terakhir kata marilah kita ucapkan agar semua makhluk berbahagia.

haryos

Posts : 56
Points : 166
Reputation : 1
Join date : 2010-10-07

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum